SMK Negeri 1 Kandeman Mengikuti Lomba Video Pendek peringati Hari Antikorupsi Dunia

Korupsi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah  penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara (perusahaan, organisasi, yayasan, dan sebagainya) untuk keuntungan pribadi atau orang lain. Ada berbagai macam korupsi yang dilakukan masyarakat, baik pejabat ataupun masyarakat umum. Terkadang seseorang tidak menyadari dirinya melakukan korupsi karena sebagian orang mengartikan korupsi hanya sebatas uang saja. Korupsi dalam makna luas, dapat diartikan kegiatan yang dapat merugikan orang lain. Salah satu bentuk korupsi bukan uang, yaitu korupsi waktu.

Di Indonesia, kasus korupsi belum bisa benar-benar dihilangkan. Bagaimana menurut Kalian menanganan kasus korupsi di Indonesia? begitulah realita yang terjadi di negara tercinta kita. Lain halnya di negara lain. Misalnya di China, apabila seseorang melakukan tindak korupsi maka akan dikenai hukuman mati dan dimiskinkan keluarganya. Apakah hal tersebut dapat diterapkan di Indonesia? Tentunya negara kita sangat menjunjung Hak Asasi Manusia, bahkan seorang pembunuhpun dilindungi HAM. Jadi? Mari kita renungkan.

Nah, berbicara korupsi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, khususnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah menyelenggarakan Parade Antikorupsi Jateng Gayeng Gerak Bareng dalam rangka memperingati Hari Antikorupsi Dunia (Harkodia) secara daring/online mulai 12 November  s.d.  22 Desember 2020. Bagian dari kegiatan parade yang dimaksud, diselenggarakan lomba Pemasangan Spanduk  dengan sasaran satuan pendidikan SMA, SMK, dan SLB Negeri dan Swasta, serta Lomba Video Pendek dengan sasaran peserta didik pada satuan pendidikan SMA, SMK, dan SLB Negeri dan Swasta di Provinsi Jawa Tengah. Kegiatan tersebut diharapkan mampu meminimalisasi tindak korupsi di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

SMK Negeri 1 Kandeman sebagai salah satu sekolah di bawah naungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah ikut serta dalam kegiatan tersebut. Spanduk antikorupsi “Becik Ketitik Olo Ketoro” merupakan imbauan bagi warga masyarakat bahwa setiap tindakan selalu ada konsekuensinya. Orang yang melakukan tindakan baik akan diterima masyarakat dan orang yang melakukan tindakan buruk akan terlihat buruknya. Imbauan dalam spanduk tersebut dikuatkan dengan video pendek yang disajikan siswa-siswi SMK N 1 Kandeman. Dalam video yang diperankan Adi Okta (XI TKRO 1) sebagai Jono, Rera Renata (XI RPL 1) sebagai Astute, Bu Chanifah Ulfah sebagai Ibu Jono, dan Pak Puguh Ario Sembodo sebagai Pak Guru tersebut menggambarkan bahwa Jono telah melakukan tindak korupsi berupa penggelapan atas uang SPP yang seharusnya dia bayarkan.

Dalam video berdurasi 1 (satu) menit tersebut, sangat relate  dengan kehidupan anak-anak sekolah. Korupsi yang dilakukan Jono termasuk korupsi dalam skala kecil. Namun, konsekuensi yang diterima Jono sangatlah besar. Tidak hanya berdampak pada lingkungan sosialnya, namun berdampak pula pada psikologisnya. Begitulah ketika tindakan buruk dilakukan. Mari mboten korupsi mboten ngapusi amargi becik ketitik olo ketoro Jateng Gayeng Gerak Bareng.